Sebagai negara kepulauan, ternyata Indonesia kaya akan keberagaman jenis-jenis minuman beralkohol (minol). Di beberapa tempat bahkan minol masuk sebagai bagian dari kelengkapan ritus adat. Itulah mengapa minuman beralkohol lokal khas Indonesia masih memiliki penggemarnya masing-masing.

Melihat pada aspek yuridis, produksi minuman tradisional diperbolehkan sepanjang sesuai ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 71 Tahun 2012 tentang Pengendalian dan Pengawasan Industri Minuman Beralkohol. Hanya saja, banyak pelanggaran terhadap ketentuan ini yang terkadang menimbulkan masalah sosial di masyarakat.

Beberapa jenis minol tradisional yang dikenal, antara lain:

  1. Ciu
    Minuman dengan kadar alkohol 50-90 persen ini biasa dikenal di daerah Sukoharjo dan Banyumas. Masyarakat Banyumas memproduksi Ciu dari hasil fermentasi beras.

    Sementara Ciu di Bekonang, Sukoharjo tergolong legal dan populer. Pemerintah daerah kota ini pun turut mendukung penyebaran Ciu, hingga populer di beberapa daerah seperti Surabaya, Madura dan Surakarta.

    Ciu memiliki rasa yang sangat kuat dan warna yang bening. Jika kamu mendapatkan minuman ini dan ingin mencobanya, pastikan kamu menenggaknya dalam takaran yang wajar!

  2. Sopi
    Ini adalah minuman khas Maluku. Meski telah dilarang penyebarannya, masyarakat Maluku masih menggunakan minuman ini sebagai hidangan di acara-acara adat. Sopi didapatkan dari hasil fermentasi buah aren dan memiliki kadar alkohol hingga 50 persen. Demi menghasilkan rasa yang khas, pembuatan Sopi turut menambahkan bubuk akar Husor serta menggunakan bamboo saat penyulingan.
  3. Arak Bali
    Arak Bali didapatkan dari hasil fermentasi buah dan sari kelapa. Biasanya kadar alkohol yang dihasilkan dari fermentasi ini berkisar antara 37-50 persen.

    Minuman yang memang khas Bali ini kerap digunakan pada acara-acara adat. Arak Bali biasanya dituangkan ke daun pisang kemudian dicipratkan dengan menggunakan bunga.

    Arak berkualitas tinggi akan diminum, sedangkan yang berkualitas rendah digunakan dalam upacara adat. Minuman ini juga kerap masih dicari oleh wisatawan-wisatawan asing yang mengunjungi Pulau Dewata.

  4. Tuak
    Tidak jauh berbeda dengan Arak Bali, minuman ini juga diciptakan dari hasil fermentasi buah-buahan lokal. Tuak sangat identik dengan minuman khas masyarakat Sumatera Utara, padahal minuman ini juga kerap ditemukan di beberapa daerah lainnya di Indonesia. Di beberapa wilayah di Sumatera Utara, Tuak dikenal juga dengan sebutan bir panjat.
  5. Lapen
    Minuman ini berasal dari Yogyakarta. Meski terkenal, Lapen ternyata sangat berbahaya bagi siapapun yang mengonsumsinya. Berbagai dampak negatif kerap terjadi pasca seseorang menenggak minuman ini. Hal ini tak lain terjadi akibat bahan baku pembuatannya yang seringkali menyertakan berbagai bahan kimia.
  6. Saguer, Cap Tikus dan Saledo
    Minuman ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Saguer kerap dipandang sebagai produk bukan minol, padahal mengandung alkohol meskopun sangat rendah. Saguer tidak mengalami pengolahan. Minuman ini berasal langsung dari pohon aren.

    Sedangkan Cap Tikus sangat popular tidak hanya di bagian utara pulau Sulawesi, tetapi keseluruhan. Cap Tikus berasal dari pengolahan secara destilasi.

    Bahan utamanya adalah Saguer. Takaran 1 drum Saguer dapat menghasilkan sekitar 20 botol ukuran 600 ml. Lima hingga delapan botol sulingan pertama sering dijadikan sebagai alkohol medis, kemudian sulingan berikutnya barulah untuk konsumsi.

    Saledo merupakan Cap Tikus yang diberi ramuan. Biasanya terdiri dari dua warna, merah dan putih. Minahasa Utara mendominasi konsumsi jenis ini. Ramuan utama minuman ini diolah dengan menggunakan bambu.

 

credit photo : flickr.com/byte