Minuman beralkohol (minol) dan minuman keras (miras) yang kerap kamu temukan di beberapa tempat resmi ternyata memiliki catatan perjalanan panjang sejak ia dikirimkan dari luar negeri. Itulah mengapa, produk-produk minol non luar negeri dipatok dengan harga yang cukup tinggi setibanya di negara ini.

Minuman beralkohol Golongan A, B dan C yang berasal dari luar negeri (impor) bisa diterima melalui dua jalur, yakni duty paid (dengan membayar pajak terkait ekspor/impor barang) dan duty not paid (bebas pajak). Sistem pembelian minol dari luar negeri dengan ketentuan duty paid hanya bisa dilakukan oleh para importir, sedangkan duty not paid hanya bisa diterima oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Minuman-minuman tersebut harus melewati serangkaian pemeriksaan, pendataan dan perizinan sebelum diperkenankan sampai ke tangan konsumen di Indonesia. Hal tersebut juga diatur secara resmi oleh Kementerian Perdagangan melalui Permendag No.20/M-DAG/PER/4/2014.

Bagaimana sistem tata niaga minol impor serta penjelasan akan aturan tersebut? Simak ulasannya di bawah ini :

Alur Masuk Minuman Beralkohol Impor

  • Minuman beralkohol impor hanya bisa didistribusikan oleh perusahaan yang memiliki ketetapan sebagai Importir Terdaftar Minuman Beralkohol (IT-MB). Sementara itu, perusahaan tersebut juga harus memiliki SIUP-MB (Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol).
  • Status IT-MB hanya berlaku 3 tahun dan bisa diperpanjang. Perusahaan yang memegang status ini juga harus sudah pernah berpengalaman menjadi Distributor Minuman Beralkohol setidaknya selama 3 tahun berturut-turut.
  • Perusahaan dengan status IT-MB harus membayar pajak ekspor-impor yang telah berlaku di negera ini (duty paid).
  • Perusahaan IT-MB harus menunjuk Distributor resmi (yang telah memiliki surat izin penjualan) untuk menyalurkan minol. Nantinya Distributor tersebut juga harus menunjuk Sub Distributor untuk bisa menyalurkan minol impor. Selanjutnya, Sub Distributor lah yang hanya bisa mendistribusikan minuman beralkohol kepada pengecer atau penjual langsung yang resmi ditunjuk.
  • Minol yang masuk tanpa dikenakan pajak (duty not paid) hanya bisa diterima oleh BUMN yang telah ditentukan oleh Menteri Perdagangan. Saat ini PT. Sarinah (Persero) lah yang ditunjuk untuk bisa medistribusikan minol langsung ke Toko Bebas Bea (duty free shop) atau pengecer dan penjual langsung.
  • Pengecer yang telah menerima minuman beralkohol resmi baik secara duty paid/duty not paid hanya bisa menjual minol tersebut pada Toko Bebas Bea, pada tempat tertentu lainnya yang telah ditunjuk Bupati/Walikota dan Gubernur DKI Jakarta, supermarket dan hypermarket.
  • Penjual langsung hanya boleh menjual minol yang harus diminum langsung di tempat, pada : hotel, restoran, bar atau tempat tempat tertentu lainnya yang telah ditunjuk Bupati/Walikota dan Gubernur DKI Jakarta.
  • Alur tersebut di atas juga berlaku pada distribusi minuman beralkohol oleh produsen dalam negeri.

alur distribusi minuman beralkohol-01

Tempat minol impor masuk ke Indonesia
Minol impor yang masuk ke Indonesia hanya bisa melalui dua tempat, yakni pelabuhan laut dan Bandar udara. Pelabuhan dan bandar udara apa saja yang boleh menerima minol impor?

  • Pelabuhan laut
    Beberapa pelabuhan laut yang bisa menerima masuknya minuman beralkohol impor adalah : Pelabuhan Belawan (Medan), Pelabuhan Tanjung Priok (DKI Jakarta), Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya), Pelabuhan Bitung (Manado) dan Pelabuhan Soekarno Hatta (Makasar)
  • Bandar udara yang bisa menerima masuknya minol impor adalah : seluruh bandara internasional di Indonesia.

Aturan Membawa Minol Impor Secara Pribadi
Bagi kamu yang ingin membawa minuman beralkohol dari luar negeri, hal ini tentu diperbolehkan oleh negara. Hanya saja, kamu perlu mengikuti aturan yang berlaku.

Kamu bisa membawa minuman beralkohol yang hanya untuk dikonsumsi pribadi. Jumlah minol tersebut tidak boleh lebih dari 1000 ml atau 1 liter saat diterima masuk melalui bandara internasional.