Tidak ada yang salah dengan kebiasaan kamu mengonsumsi minuman beralkohol. Hanya saja, apakah kamu sudah melakukan hal-hal yang tidak berbahaya bagi dirimu dan sekitarmu pasca menenggak minuman tersebut?

Menyetir setelah mengonsumsi minuman beralkohol adalah salah satu hal berbahaya yang dimaksud di atas. Kamu bisa mendapatkan potensi kecelakaan lebih besar, dibandingkan mereka yang menyetir tanpa menenggak minuman beralkohol.

Alkohol memiliki pengaruh untuk mengurangi kemampuan pengambilan keputusan serta keahlian seseorang untuk bereaksi cepat. Dengan mengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah besar, maka pengemudi tersebut menjadi tidak waspada dan kurang menyadari kecepatan laju kendaraannya.

Tak hanya diri sendiri, mengemudi setelah mengonsumsi minuman beralkohol bisa merugikan orang lain, seperti pengendara kendaraan lain, pejalan kaki, penumpang, orang-orang atau rumah di lintasan yang dilalui kendaraan. Itulah mengapa pemerintah turut menyertakan aturan yang ketat terkait aktivitas berkendara dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Selain Indonesia, negara-negara luar juga turut berfokus pada hal ini. Beberapa negara seperti Inggris dan Skotlandia turut melihat kadar BAC (Blood Alcohol Concentration), yang bisa diukur melalui darah, nafas dan urine. Jika pengemudi dinyatakan melewati batas BAC, maka pengemudi tersebut harus dikenakan hukuman.

Bagaimana gambaran penilaian atas BAC tersebut, dan apa akibat dari tingginya kadar alkohol pada darah? Simak ulasan ini:

  • BAC 0,02 : Ini adalah batas awal kadar alkohol pada darah. Meskipun hanya memiliki 0,02 mg alkohol per 100 ml darah dalam tubuh, nyatanya pengemudi dengan kadar BAC ini akan mengalami perubahan drastis pada tubunya.

    Pengemudi menjadi lebih relaks, suasana hati berubah, fungsi penglihatan menurun, serta pengemudi tidak mampu mengerjakan dua aktivitas sekaligus di saat yang bersamaan.

  • BAC 0,05 : Para pengemudi kendaraan roda empat yang memiliki BAC 0,05 secara tidak langsung mengalami penurunan kemampuan psikomotorik dan kemampuan menggerakkan bola mata secara cepat.

    Dengan begitu, mereka akan lebih sulit melakukan koordinasi antar anggota tubuh dan memberikan respon lambat bagi sekelilingnya. Jika pengemudi roda dua memiliki kadar BAC 0,05, maka mereka memiliki risiko 40 kali lebih mudah mengalami kecelakaan lalu lintas.

  • BAC 0,08 : Saat berada di kadar ini, maka pengemudi mengalami perubahan yang buruk secara drastis pada tubuh mereka. Mereka akan sulit untuk melakukan keseimbangan tubuh, tidak mampu bergerak cepat, pendengaran menurun, serta sangat lambat untuk mencerna informasi seperti rambu-rambu lalu lintas.

    Pengemudi dengan kondisi seperti ini akan lebih sulit berpikir, mengingat dan berkonsentrasi akan apa yang dilakukannya. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya jika kamu melihat pengendara seperti ini, bukan?

Nah, guna menghindari risiko kecelakaan yang disebabkan oleh konsumsi minuman beralkohol, maka ada baiknya kamu tidak menenggak minuman tersebut sebelum mengemudi.

Namun, jika kamu sudah telanjur melakukannya dan mengalami ciri-ciri tersebut di atas, mintalah seseorang untuk mengemudikan mobilmu, atau pesanlah taksi secepatnya. Pastikan keselamatan kamu lebih utama di atas segalanya, ya!